#status 29 Des 2020 17:37
Aku mengawali tahun 2020 dengan rasa malu, mengisi pertengahan tahunnya dengan rasa bersalah, namun aku mengakhirinya dengan kebanggaan.
(#status 29 Des 2020 17:37)
Aku mengawali tahun 2020 dengan rasa malu, mengisi pertengahan tahunnya dengan rasa bersalah, namun aku mengakhirinya dengan kebanggaan.
(#status 29 Des 2020 17:37)
Jadi gini, selama 1999-2002 saya sepedaan dari rumah ke SMP yang jaraknya 5km lebih. Paling tidak, dlm satu hari saya menempuh jarak 10 km (pergi-pulang).
Kalau dikira2 sekolah masuk 300 hari setahun, totalnya saya sepedaan sudah 300x3x10km= 9000km. Jarak 9000 km itu setara Jogja – Afganistan wkwkw.
Lha Sampeyan ngepit tekan ngendi?

Sejak saya beristirahat dari media sosial (medsos) akhir bulan lalu, konsumsi saya terhadap berita menurun drastis. Sesekali saya masih mendapat informasi, dari radio, dari koran, dari tv, dari kilasan judul berita yang muncul otomatis di browser, namun biasanya itu terjadi secara pasif saja dan tidak saya telusuri lebih lanjut sebagaimana dulu. Terlebih berita politik, bisa dibilang saya buta dengan isu politik aktual dua pekan belakangan.
Ada manfaat yang saya ambil dari puasa berita dan media sosial ini. Yang utama, saya tidak lagi berminat untuk berdebat di grup-grup komunitas yang saya ikuti. Ini membuat energi dan emosi saya lebih terarah untuk hal-hal yang jauh lebih penting untuk saya. Debat politik itu bagaikan candu. Ketika seseorang mengutarakan gagasan yang menurut saya salah dan bodoh, saya dahulu bergegas ingin membantahnya. Dan bantahan saya akan dibalas dengan bantahan lain, yang membuat saya harus mencari informasi tambahan sebagai senjata untuk melawan bantahan mereka. Begitu seterusnya hingga energi dan emosi saya terbuang sia-sia hanya untuk membuktikan bahwa gagasan mereka itu bodoh dan salah. Ending-nya, tetap saja mereka bersikukuh dengan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran.
Manfaat lain yang saya rasakan adalah, saya menjadi lebih optimis melihat keadaan. Beberapa bulan belakangan saya hampir putus asa melihat masa depan, memikirkan bagaimana kelak anak saya akan hidup jika situasi makin menuju ke arah yang buruk. Tanpa asupan berita, perlahan pikiran-pikiran pesimis itu berkurang. Saya bisa menikmati kondisi saat ini dengan lebih tenang.
Jika menengok ke belakang, seharusnya saya tidak perlu terjatuh dalam situasi seperti itu. Dahulu waktu kuliah, saya pernah berprinsip tidak mau hidup saya dikendalikan media. Bahkan pernah, dalam sebuah ujian semester, saya menulis jawaban yang terinspirasi American Idiot-nya Green Day: “Don’t wanna be an Indonesian idiot, one nation controlled by media.”
Masalahnya adalah, dahulu saya menganggap televisi sebagai alat media untuk mengontrol bangsa, saya hampir menghindari tv dan memilih Internet sebagai sumber informasi yang lebih independen. Saya telat menyadari bahwa saat ini, media sudah menguasai Internet, orang-orang sudah terhubung dengan Internet, bahkan orang biasa seperti Simbok saya sudah memegang ponsel yang berinternet. Kebebasan memilih informasi hanyalah ilusi saja saat orang-orang di media sosial ternyata membicarakan isu seragam sebagaimana yang dilemparkan oleh media besar.
Untuk lepas dari jeratan kontrol media besar ini, cara saya adalah memisahkan konsumsi berita dari trending media sosial. Trending bukan ukuran penting tidaknya suatu isu. Agar keluar dari pengaruh trending, sebaiknya tak usah sering-sering mengakses media sosial. Think local act local, sesekali diperlukan. Lokal bukan hanya dalam hal spasial, tapi juga “lokal” dalam hal topik yang diminati.
Tak peduli orang membencimu, aku tetap di sampingmu, membelamu. Aku melihatmu tumbuh sejak kecil, engkau bukan penjahat, engkau bukan pemalas. Engkau bukan seseorang yang pantas dibenci.
Aku menjadi saksi pergulatanmu. Engkau, yang sedih melihat kesedihan orang-orang di sekitarmu. Engkau yang tak ingin menyakiti siapa pun. Engkau yang membayangkan surga, sebagai tempat tanpa diskriminasi, tanpa pengabaian, yang setiap orang adalah kawan bagi orang lain. Aku percaya engkau masih memegang nilai-nilai itu.
Aku menjadi saksi, ketika tahun 2015 engkau hancur, bahwa engkau mampu bangkit kembali. Aku menjadi saksi bahwa engkau bukan manusia lemah.
Engkau hidup dengan keajaiban-keajaiban yang tak terbayangkan. Engkau terselamatkan. Bahkan Gusti masih membiarkanmu melanjutkan nafas, maka janganlah menyerah! Lihat wajah Nan. Lihat? Bukan hanya Gusti mengizinkanmu bernafas, bahkan genetikmu boleh diteruskan. Maka bangkitlah!
Seberapapun lelah engkau dengan segala kesalahanmu, engkau tetap makhluk berbudi luhur. Ingatlah mereka yang memelukmu setiap kamu pulang kampung. Ingatlah mereka yang dulu di belakangmu saat perpecahan yang dulu kau timbulkan itu.
Semua pernah bersalah. Engkau bukan satu-satunya yang bersalah.
You mess up, and start all over again, like the goldarn hero that you are. You fall down a thousand times, get up two thousand. You are courageous, inspirational, and stronger than even you believe.
From: zenhabits.net
Ketika penghakiman datang bertubi-tubi dan engkau lelah dengan dirimu sendiri, tak ada salahnya engkau mencari penghiburan. Bukan untuk berkilah, namun untuk membuatmu bangkit.
Tulisan menghibur dari Om Leo buat kamu yang selalu bersalah: https://zenhabits.net/no-wrong/
Ketika dirimu adalah kumpulan dari berbagai kegagalan, tak ada lagi yang bisa menghiburmu selain melenyapkan dirimu selenyap-lenyapnya. Ketika berbagai usaha untuk bangkit malah berujung pada bertambah panjangnya daftar kegagalan, tiada lagi yang bisa menyenangkan hatimu selain ide untuk mengakhiri nafasmu.
Menatap lucunya wajah anakmu sejenak mampu menghilangkan susah hatimu, namun beberapa menit kemudian, kamu sadar bahwa dirimu berhadapan dengan tugas besar untuk mendidik anakmu menjadi manusia yang hidup nyaman sejahtera. Dan kamu pun mulai dibayangi ketakutan, bagaimana bisa aku melakukan tugas sebesar itu jika bahkan tugas-tugas kecil pun aku gagal?
Waktu kamu memberanikan diri membentangkan sajadah, dirimu mulai diteror oleh segala dosa yang kamu lakukan kepada orang-orang di sekitarmu. Tangis-tangis yang diakibatkan kegagalanmu. Dan tiba-tiba sajadah berubah seperti dasar neraka yang akan menyiksamu selama-lamanya.
Lidahmu mulai kelu untuk bercerita, sebab perbendaharaan alasanmu sudah kau habiskan sejak dulu. Sudah tak ada hal baru untuk diceritakan. Ini cerita lama yang terus berulang. Dan apa yang mereka sebut bantuan ahli itu, ternyata hanya setumpuk obat penenang mahal, yang bahkan membuat otakmu beku.
Yang kamu lihat, tinggal satu jalan saja. Aku tak berani menyebut jalan itu.
Ini Nook ketiga saya. Nook pertama dan kedua adalah Simple Touch (belum pakai GlowLight). Yang pertama pecah layarnya karena tertindih sewaktu tidur, yang kedua rusak karena masuk mesin cuci, haduh.
Saya beli alat pembaca buku ini di Tokopedia, dari penjual yang lokasinya di Surabaya. Untuk harga, tidak perlu saya sebutkan, karena gawai satu ini tidak resmi beredar di Indonesia, jadi harga bagi saya bukan masalah, selama ada yang jual. Paket yang saya dapatkan adalah perangkat yang masih baru (bersegel plastik) dengan kelengkapan berupa pengecas dan kabel. Kalau yang dulu-dulu (tanpa GlowLight) hanya dapat kabel saja.
Sebenarnya Nook Simple Touch tanpa GlowLight lebih murah, namun karena kadang saya baca buku dalam kondisi gelap, saya perlu versi GlowLight ini.
Nook Simple Touch dan Nook Simple Touch GlowLight sudah tidak diproduksi lagi. Sekarang ini yang beredar adalah Nook GlowLight. Saya pilih versi lawas ini karena yang versi baru sudah tidak ada slot microSD lagi, sementara koleksi buku saya ada di microSD.
Saya memang lebih seneng Nook daripada Kindle-nya Amazon, alasan utama ya itu tadi, adanya slot microSD. Alasan lain karena Kindle tidak mendukung format epub, sementara koleksi buku saya kebanyakan epub. Lagipula epub adalah format bebas dan terbuka, jadi secara “ideologis” saya lebih mendukung epub daripada format Kindle (mobi, dan lainnya).
Memang, ada kelemahan Nook: susah beli buku jika lokasi pembelinya di luar negara yang didukung. Juga tidak seperti Kindle yang kalau mau beli buku boleh pakai kupon (giftcard), Nook setahu saya harus pakai kartu kredit. Namun ini tidak terlalu masalah, ada trik untuk menghilangkan DRM dan mengubah format buku yang dibeli di Kindle melalui aplikasi Windows. Lagi pula saya lebih banyak baca buku bebas yang gratis dari Gutenberg.org atau tempat lain.
Sundel Balon is one of my creations wkwkw. No story yet, but the premise is: everytime someone sings Balonku Ada Lima with the wrong lyric (merah kuning kelabu), Sundel Balon will kill a random people out there. I don’t have any more details yet.

Hampir semalam suntuk saya gelisah, sambil memikirkan sabda Kanjeng Nabi ini: kemiskinan mendekatkan pada kekufuran. Ini terjadi karena saya membaca berita tentang diluncurkannya minuman beralkohol 40% berjuluk Sophia oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari berita sebelumnya, saya tahu bahwa peluncuran minuman ini diharapkan oleh Gubernur NTT akan meningkatkan pendapatan masyarakat serta—mengutip berita di Kompas online—kemiskinan perlahan akan berkurang, karena investasi akan masuk ke sana. Adapun kegelisahan saya adalah, haruskah saya menjadi pemabuk, atau minimal peminum, demi cita-cita mulia mengentaskan kemiskinan ini, yang pada akhirnya juga akan menyelamatkan masyarakat NTT dari kekufuran?
Sayangnya dengan kondisi yang ada sekarang ini, saya harus memilih antara menyelamatkan masyarakat dari murka Tuhan akibat kekufuran, atau menyelamatkan diri saya sendiri dari kobaran neraka akibat minum air api terlarang. Sebabnya begini, kekufuran adalah hal yang amat dibenci oleh Tuhan—setidaknya versi Tuhan yang saya sembah—namun minuman beralkohol pun adalah satu dari sekian larangan Tuhan—sekali lagi Tuhan versi yang saya sembah. Andai produk yang diluncurkan oleh Pemerintah Provinsi NTT adalah kain batik, atau jus jamur, atau daging sintetis berbahan dasar tumbuh-tumbuhan, masalah tidak akan muncul dan saya tidak perlu memilih satu dari dua opsi yang sama-sama berujung neraka.
Sempat terpikir jalan tengahnya: saya akan membeli Sophia sebanyak yang saya mampu, namun tidak akan saya minum, entah akan saya jadikan sebagai obat luka, atau saya pajang sebagai koleksi. Namun ini pun tak lepas dari masalah. Pertama, kadar 40% alkohol kurang tinggi untuk penyembuh luka. Kedua, ini adalah bentuk pemborosan, sementara orang boros adalah teman setan, dan teman setan tempatnya juga di neraka.
Adapun opsi lain, yakni berganti Tuhan, memilih versi Tuhan yang tidak menghukum peminum alkohol—tidak pernah saya anggap sebagai opsi serius, begitu pun berganti Tuhan yang tidak membenci kekufuran dan tidak mengirim nabi yang menyabdakan kemiskinan dekat dengan kekufuran. Sebabnya tentu saja, karena saya sudah terikat perjanjian untuk tidak berganti Tuhan. Jikalau melanggar perjanjian ini, saya pun akan diseret ke neraka kelak.
Bagaimanapun, saya harus menentukan pilihan, sebab membiarkan orang miskin jatuh pada kekufuran adalah perbuatan dosa, yang lagi-lagi bakal mengantarkan pelakunya ke neraka. Artinya, jika saya tidak menentukan pilihan, saya telah membiarkan 1,14 juta warga miskin NTT, sesuai data BPS 2018, plus diri saya sendiri untuk masuk neraka. Belum lagi bukankah kata Dante tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral? Artinya saya bakal masuk neraka dobel jika tak menentukan pilihan, neraka Tuhan saya dan neraka versi Dante.
Dengan segala pertimbangan di atas, satu-satunya pilihan dengan dampak terkecil adalah saya harus menjadi peminum Sophia. Peminum, bukan pemabuk, sebab peraturan daerah yang baru saja dikeluarkan Pemerintah Provinsi NTT melarang minum Sophia sampai mabuk. Dengan menjadi peminum Sophia, hanya saya saja yang bakal masuk neraka, sementara kemiskinan 1,14 juta warga NTT insya Allah bakal “perlahan berkurang” dan tentu saja 1,14 juta warga semakin menjauhi zona kekufuran, terhindar dari neraka.
Sesungguhnya selain perkara bahwa saya bakal masuk neraka, ada pula masalah lain yang jangkanya lebih pendek. Itu adalah harga Sophia. Rencananya, Sophia bakal dibandrol kisaran sejuta rupiah sebotol. Bukan angka kecil. Saya bakalan harus memangkas banyak pos anggaran keluarga demi bisa membeli Sophia, kemungkinan anggaran susu untuk anak yang akan terpangkas paling besar.
Rencananya saya akan beli sebotol Sophia tiap bulan, diminum diam-diam tiap malam selepas sembahyang Isya, kecuali malam Jumat. Demi mengurangi risiko siksa neraka, akan saya imbangi dengan rutin menjaga empat rakaat sebelum solat fardhu Zuhur dan empat rakaat setelahnya, sebab konon Tuhan akan mengharamkan neraka bagi yang rutin melaksanakan salat sunat tersebut.
Saya harus siap dengan segala risiko. Mungkin istri akan marah, atau bahkan menuntut cerai. Mungkin sahabat-sahabat akan menjauhi saya yang sebentar lagi menjadi ahli maksiat dan berstempel penghuni neraka. Tapi semua itu tak berarti apa-apa jika saya telah mantap menuju tujuan mulia.
Orginally published at Terminal Mojok on 2019-06-30