Ihsan Ariswanto

Pemerhati Perdukunan

Dahulu, saya pernah menduga diri saya tak suka mengobrol. Memang kenyataannya, saya lebih sering diam ketika berkumpul baik dengan keluarga maupun teman. Bahkan ketika nongkrong dengan teman-teman yang akrab pun, lebih sering saya menjadi pendengar saja.

Belakangan, ketika saya sudah jauh dari kawan-kawan, jauh dari keluarga di kampung halaman, barulah saya merasakan betapa menyenangkannya mengobrol. Selalu ada rasa bahagia setelah melakukan obrolan. Ini tidak terbatas dengan orang baru saja, dengan orang yang setiap hari bertemu pun saya mulai merasakan senang untuk mengobrol.

Saya belum mampu untuk menuliskan seperti apa bahagianya mengobrol. Tapi, sebagai gambaran, banyak dari rasa sedih saya sejenak terlupakan ketika mengobrol. Menerima pengetahuan baru, menerima konfirmasi (atau afirmasi, saya belum buka kamus) dari orang lain atas pengalaman yang kita alami itu menimbulkan perasaan bahagia.

Meski begitu, frekuensi obrolan saya tetap tidak terlalu banyak. Saya kesulitan untuk masuk pada sebagian besar obrolan orang-orang. Obrolan sepak bola, misalnya, saya tidak pernah bisa mengikuti. Bergosip, walaupun dalam hati saya menikmati, juga lebih sering membuat saya jadi pendengar saja.

Kadangkala saya juga merasa terbebani ketika orang mulai mengajak mengobrol dengan tema yang menurutnya saya kuasai tapi ternyata tidak. Ada rasa takut mengecewakan lawan bicara. Ini biasanya terjadi ketika lawan bicara mengajak mengobrol soal pekerjaan. Saya memang buruk dalam urusan pekerjaan.

Untungnya, saya mulai menemukan trik untuk mengalihkan pembicaraan. Smartphone sungguh membantu. Dengan sedikit googling, kita bisa tersambung dengan obrolan yang tidak kita kuasai, sambil perlahan mengaitkan dengan hal-hal yang kita kuasai. Sayangnya cara ini tidak bisa dilakukan setiap saat.

Memang masih banyak hal yang harus saya pelajari untuk bisa menjadi pengobrol seperti kebanyakan orang. Walau begitu, setidaknya saya sudah bisa menikmati menjadi pendengar saja maupun menjadi orang yang didengar.


@[email protected]

Ini adalah konfirmasi bahwa saya telah menandatangani Surat Dukungan Terbuka untuk Richard M. Stallman (RMS).

Untuk diketahui, saya adalah associate member FSF sejak Oktober 2020, dan oleh karenanya saya merasa berhak ikut bersuara untuk menentukan masa depan FSF.

Alasan saya mendukung RMS terwakili oleh artikel berikut:


diedit 24 April 2021 pukul 21.29 WIB oleh @[email protected]

Tanggal 17 Maret 2021 kemarin, saya dan istri terkonfirmasi positif Covid-19 melalui tes PCR. Kami menjalani isolasi mandiri di rumah terhitung mulai tanggal tersebut sampai dengan tanggal 31 Maret 2021. Baik saya maupun istri sama-sama hanya mengalami gejala ringan, sehingga tidak perlu perawatan lebih lanjut. Insya Allah mulai tanggal 1 April 2021 kami sudah mulai beraktivitas secara normal kembali.

kondisi saya selama isolasi mandiri Keterangan: selama isolasi mandiri, saya rajin menggunakan masker


@[email protected]