Ihsan Ariswanto

Ini Acer Chromebook 11 (CB3-131), dapat beli murah di Tokopedia. Awalnya oleh para penjual dibanderol harga Rp1,6-an juta, dan waktu itu uang saya belum cukup. Sewaktu sudah menabung, saya dapat sudah di harga Rp1,8-an juta. Sekarang, tahun 2019 ini, banyak yang menjual dengan harga di atas Rp2 juta.

Sebenarnya ini produk lama, tahun 2016. Saya beli di tahun 2018. Entah bagaimana harganya malah semakin naik, mungkin karena banyak yang minat. Memang dengan harga segitu, sudah dapat laptop cantik, ringan, baterai super awet, tentu banyak yang suka.

Tapi tentu saja ada kelemahannya. Laptop ini memakai sistem operasi ChromeOS, jadi tidak bisa dipasangi aplikasi versi Windows, termasuk MS Office. Kemudian, karena berbasis ChromeOS, banyak fungsi laptop ini mengandalkan koneksi internet. Dibandingkan versi Chromebook lain yang lebih canggih, versi ini juga masih minim fitur, belum bisa dipasangi aplikasi berbasis Android. Chromebook lain yang lebih baru banyak yang sudah mendukung aplikasi Android.

Namun begitu, dengan sedikit dioprek, laptop ini bisa dipasangi sistem operasi lain, terutama yang berbasis GNU/Linux. Dengan begitu, aplikasi yang bisa berjalan offline di GNU/Linux bisa dijalankan di laptop ini. Untuk sistem operasi Windows, setahu saya sampai saat ini masih belum bisa dipasang di Chromebook, lagi pula saya tidak minat memasang Windows.

Saat ini, saya memakai metode crouton untuk memasang Ubuntu. Dari situ, saya bisa menjalankan LibreOffice dan aplikasi-aplikasi lain yang diperlukan untuk kerja.

Saya memilih untuk membatasi pengunggahan foto dan identitas anak ke internet. Tidak dapat lepas seutuhnya memang. Sebab saya juga perlu mengirim foto anak kepada sanak saudara yang jauh, dan itu lebih nyaman melalui internet. Pun saya tidak melarang keluarga dan kerabat untuk mengunggah foto dan nama anak saya.

Ada beberapa alasan mengapa saya sendiri meminimalkan hal ini. Pertama, saya menghormati hak pribadi anak saya kelak kalau sudah besar. Boleh jadi dia ingin wajah dan namanya dikenal banyak orang, tapi boleh jadi pula dia ingin menyembunyikan identitasnya. Bagaimanapun saya telah dan akan banyak menentukan apa dan siapa dia pada awal kehidupannya. Mau tak mau memang saya akan mewariskan pandangan hidup yang akan menjadi fondasi baginya untuk memilih sendiri jalan hidupnya. Tapi untuk hal-hal yang masih dapat dihindari sambil menunggu usianya mencapai _mumayyiz, _biarlah saya menunggu saja.

Alasan kedua adalah mencegah penggunaan foto anak saya untuk tujuan yang di luar kendali keluarga kami. Foto yang terunggah di publik sangat mudah untuk digandakan, dimanipulasi (diedit, dijadikan gambar meme, dan sebagainya), bahkan tidak menutup kemungkinan disalahgunakan untuk dijadikan alat tindakan kriminal. Kasus foto anak selebritas Ruben Onsu adalah salah satu contohnya.

Alasan ketiga, mungkin sedikit kurang masuk akal bagi Anda, adalah untuk mencegah orang yang mungkin berpikiran tidak baik dengan kelahiran anak kami. Dalam kepercayaan Islam, kami mengenal adanya ‘ain.

Hal-hal di atas adalah sikap saya sendiri. Saya tidak mempermasalahkan dan tidak akan mendebat Anda jika Anda berpandangan lain.

Oh ya, sedikit bocoran, saya memanggil anak saya Nan.

Dini hari di Bantul tentu saja adalah puncak kesunyian dalam ritme satu putaran bumi yang dilakoninya. Pekerja borongan yang lembur baru saja terlelap dan mbok-mbok pasar masih menyiapkan dagangannya di rumah. Geliat kehidupan rakyat masih menunggu sejam dua jam lagi untuk dimulai.

Namun, pada dini hari Sabtu Kliwon itu, di sebuah rumah yang berada di samping selokan lebar yang bertanggul, suatu aktivitas yang melibatkan seluruh anggota keluarga telah dimulai. Aktivitas mruput itu berawal dari keluhan satu anggota keluarga, seorang perempuan muda yang tahun lalu menikah. Setelah melalui masa empat puluh minggu kehamilan, dini hari itu sang perempuan mengalami pendarahan. Bersegeralah seisi rumah itu mempersiapkan diri, untuk kemudian melaju ke rumah sakit terdekat, RSUD Panembahan Senopati.

Kebahagiaan menyelimuti keluarga itu. Bidan yang berjaga malam itu menyatakan bahwa sang perempuan muda telah mengalami pembukaan dua. Tinggal menunggu hitungan jam, si buah hati akan segera lahir ke jagat marcapada. Segala puji bagi Allah.

Sang perempuan muda kemudian dipindahkan ke ruang bersalin ditemani ibunya. Hanya satu orang yang diizinkan oleh petugas rumah sakit untuk menemani. Sementara si suami menunggu dengan cemas di kursi panjang di luar ruangan.

Subuh berkumandang, matahari Sabtu pagi itu akan segera memunculkan sinarnya. Sang perempuan muda kini telah melewati pembukaan empat.

Saat matahari telah naik sepenggalahan, ponsel si suami berdering. Ibu yang menjaga di dalam mengabarkan bahwa si buah hati telah lahir. Senyum mengembang di bibir hitam si suami. Lantunan pujian keluar dari bibirnya.

Si suami diizinkan masuk ke ruangan. Dilihatnya sang istri terlentang dengan darah meliputi tubuh dan pembaringannya. Dan tepat di dada perempuan muda itu, tergolek tubuh mungil dengan tangisan keras.

Engkau telah hadir, Nan.

Sampai hari ini masih terbersit dalam pikiranku bahwa setanlah yang membisiki Kanjeng Nabi Ibrahim melalui mimpi untuk menyembelih putranya. Biar bagaimana pun rasanya kok ya tidak masuk akal, Tuhan Yang Maha Pengasih memerintahkan hambaNya melakukan tindakan sekejam itu. Dalam pikiranku, Tuhan menyelamatkan jiwa Ismail kecil, menggantikan beliau dengan seekor domba.

Tentu saja pikiran tersebut sesat, setidaknya menurut yang dipahami mayoritas umat Islam. Mimpi tersebut konon memang dari Tuhan. Berulang tiga kali. Tuhan sengaja menguji kecintaan Kanjeng Nabi Ibrahim padaNya. Toh, pada akhirnya ending-nya pun sama. Ismail kecil tidak jadi disembelih.

Yang masih menjadi misteri bagiku adalah, bagaimana jika aku mendapat mimpi serupa? Bagaimana jika tiga malam berturut, aku bermimpi menyembelihmu? Bagaimana aku membedakan apakah mimpi itu petunjuk Tuhan ataukah bisikan setan?

Jikalau aku menerima mimpi itu sebagai petunjuk Tuhan, lalu aku mengambil gergaji untuk memotong lehermu, akankan muncul keajaiban yang sama? Akankah turun malaikat untuk menggantikanmu dengan seekor domba?

Tentu mimpi itu dapat berwujud lain. Bisa jadi berupa bisikan agar aku merakit peledak dan membunuh mereka yang kuanggap mengingari Tuhan, atau boleh jadi muncul pikiran untuk mengambil belati dan menusukkannya ke dada para penggerogot uang negara.

Atau bagaimana jika bisikan itu adalah rasa ingin meminum racun karena menganggap keberadaan diri ini hanya menjadi penyebab kerusakan bagi orang di sekitarku?

Entahlah, aku tidak mau melanjutkan pengandaian gelap itu. Yang aku pahami, melalui kisah Kanjeng Nabi Ibrahim itu, Tuhan mematahkan anggapan bahwa manusia harus mengorbankan manusia lain untukNya. Tuhan menegaskan bahwa pengorbanan yang benar adalah membagikan apa yang dimiliki untuk dinikmati sesama manusia.

Benar atau tidak yang kudengar ini, aku tak dapat membuktikan. Yang jelas, dari selentingan kabar yang tertangkap telingaku, aku dapati cerita ini cukup untuk membuatku waspada.

Sebelum lebih jauh membaca, perlu aku jelaskan bahwa apa yang kutuliskan ini adalah berita dari Nganjang Gribig, bukan di Nusantara yang kita cintai ini.

Konon begini, demi meraup untung sebanyak-banyaknya, para pembuat kemenyan sengaja mengutus juru dagangnya ke para dukun. Tentunya para juru dagang ini tidak datang dengan tangan kosong. Gula, teh, dan sedikit amplop sudah dipersiapkan untuk para dukun.

Tujuan diutusnya para juru dagang ini adalah agar sang dukun menyuruh para pengikutnya untuk membeli menyan merek tertentu yang diproduksi oleh si pembuat menyan yang mengutus juru dagang tadi. Selain buah tangan yang disetor di awal tadi, sang dukun juga ditawari amplop lebih tebal jika berhasil merekomendasikan kemenyan itu sesuai target yang disepakati.

Demi mencapai target tersebut konon para dukun tidak segan-segan menyuruh pengikutnya membeli kemenyan tersebut meskipun sebenarnya tidak diperlukan sama sekali dalam proses ritualnya.

Dapat Anda bayangkan efek dari penggunaan kemenyan yang tidak sesuai aturan ini. Nyai Widagdi misalnya, pernah kesurupan Siluman Unta waktu ritual memanggil leluhur akibat penggunaan kemenyan yang tidak pada tempatnya itu.

Kadang memang bahanyanya tak separah itu. Seperti yang dialami Pak Winarko, petani sederhana itu terpaksa menjual kambing satu-satunya demi membeli kemenyan yang disuruh dukun panutannya. Padahal dalam upacara mbeseli yang tiap jelang panen beliau lakukan, tidak perlu kemenyan mahal.

Entahlah mengapa para produsen menyan tega melakukan itu semua. Terlebih lagi para dukun. Mereka kok rela melanggar sumpahnya hanya demi meraih keuntungan duniawi semata. Ah iya, tentu saja tidak semua pedagang kemenyan dan dukun terlibat konspirasi seperti itu. Hanya oknum saja.

Alkisah di kampung Kuat Kere, tersebutlah seorang kaya nan raya bernama Karto Sugiman. Pak Kar, begitu tetangga menyebutnya, punya sawah seluas empat kali lapangan sepak bola. Sapinya sepuluh ekor, tentunya lengkap dengan badan, kaki, dan kepala. Pokoknya tak seorang pun di kampung yang menandingi kekayaanny

Dulu, Pak Kar dikenal sebagai orang yang pelitnya minta ampun. Jangankan membayar seperempat puluh hartanya untuk zakat, membayar jimpitan ronda saja dia ogah. Belakangan, sejak Pak Kar ikut Perguruan Spiritual dan Spiritus (Pspsp) asuhan Ki Joyo Sumrinthil, sifatnya berubah 178 derajat. Kini, bukan hanya bayar zakat, bahkan segenap ayam peliharaan warga kampung pun ikut disantuni.

Demi menambah amal jariyahnya, Pak Kar meluncurkan program yang menghebohkan warga. Nama programnya adalah KTA singkatan dari Kredit Tanpa Angsuran. Warga kampung yang perlu dana segar dapat mengajukan kredit untuk tujuan apapun: konsumtif, produktif, rekreatif, bahkan sekretif maupun prokreatif.

Demi mendengar acara peluncuran program tersebut, berbondong-bondong warga kampung mendatangi rumah Pak Kar. Tampak di antara mereka ada Mat Parman, yang berencana membuka warung wifi dengan kopi gratis, ada Hermanto Kanil yang berencana meminang Sariyah menjadi istri kedua, dan puluhan wajah-wajah lain berdesakan memenuhi halaman rumah Pak Kar.

“Saudara-saudariku warga Kuat Kere,” Pak Kar membuka sambutannya, “terima kasih telah datang di acara hari ini. Ini adalah hari yang akan mengubah wajah kampung kita. Hari ini segala makhluk di kampung akan berbahagia,” Pak Kar berapi-api disambut riuh tepuk tangan warga yang berair-air.

“Saudara-saudari semua boleh mengajukan kredit berapapun. Tanpa perlu mengangsur seumur hidup. Sekali lagi, tanpa perlu mengangsur seumur hidup,” ucap Pak Kar. Hadirin makin riuh rendah.

“Namun, perlu saudara-saudari ketahui. Untuk menjamin kepastian bahwa kredit ini jatuh ke tangan yang tepat, saya perlu menyeleksi siapa di antara Anda semua yang sungguh-sungguh menginginkan kredit.”

“Bagi yang benar-benar berminat dengan KTA ini saya harap mendaftar ke loket di samping kiri itu. Untuk biaya administrasi saudara akan dikenakan biaya satu juta seratus ribu rupiah.”

Hadirin mulai saling pandang.

“Sebelum dapat mengajukan kredit, bagi yang sudah mendaftar, Anda diwajibkan untuk mencari anggota lain minimal sebanyak tiga orang. Jika sudah mendapat anggota tiga orang, Anda berhak mendapat Kredit Tanpa Angsuran sebesar tiga juta rupiah. Setiap tambahan satu anggota yang mendaftar melalui Anda, Anda berhak mendapat tambahan kredit satu juta rupiah. Demikian seterusnya tanpa batas.”

Demikian Pak Kar mengakhiri sambutannya. Tampaknya hadirin sangat puas dengan penjelasan Pak Kar. Wajah mereka berseri-seri.

Dan sejak hari itu, warga Kuat Kere mulai merekrut anggota, mulai dari keluarga terdekat hingga ke kampung sebelah, saat seluruh warga Kuat Kere sudah menjadi anggota KTA.

Mata warga Kuat Kere berbinar menyambut masa depan penuh kemakmuran.

Untuk saudaraku kurma di jazirah Arab.

Kutulis surat ini sebagai ungkapan rinduku padamu. Rindu yang timbul karena jarak lebar yang memisahkan kita. Rindu membuncah sebab habitat kita berbeda.

Sungguh sebenarnya aku segan menulis surat ini. Aku sadar engkau adalah buah nabawi, memakan buahmu dapat mendekatkan manusia ke surga. Sementara aku hanya buah profan yang jauh dari sabda kesucian. Memakanku hanya mendekatkan manusia ke tempat buang air besar. Sungguh jauh derajatku di bawahmu.

Terus terang aku sebenarnya iri padamu. Terlebih saat bulan Ramadan seperti ini. Semua ustadz menyanjungmu, menyuruh manusia berbuka dengan buahmu. Berbagai media mengupas tuntas manfaatmu. Pedagang pasar dan minimarket berlomba memasarkanmu. Meskipun kamu tak tumbuh di negeri kediamanku, tak kurang akal orang mengimpormu.

Saat datang di negeriku, engkau sudah berbentuk buah kering. Kadang kala kau diawetkan dengan cairan gula, membentukmu jadi manisan kurma. Meski begitu, nilaimu di mata manusia tak berkurang sedikitpun.

Kadang aku berandai-andai, sekiranya 14 abad lalu aku tumbuh subur di Hijaz mungkin aku pun akan punya kedudukan sama denganmu. Walaupun aku tidak yakin, seandainya Kanjeng Nabi diutus di negeriku, aku akan disebut dalam sabdanya. Maklum, sebenarnya aku pun bukan penduduk pribumi tanah ini. Lagi pula terlalu banyak pesaingku di tanah tropis. Mungkin aku akan kalah dengan pisang ambon.

Sudaraku kurma di jazirah Arab.

Aku tak bisa berpanjang lebar menulis. Kalau engkau berkenan, sudilah kiranya engkau membalas suratku. Aku sangat ingin tahu bagaimana manusia di negerimu memperlakukan buahku. Apakah mereka menyukaiku? Apakah di sana daunku yang pahit juga dijadikan masakan? Apakah buahku dijual dalam bentuk segar di sana?

Kutunggu balasan darimu. Maafkan atas kata-kataku yang menyinggung perasaanmu. Sungguh aku tetap menyayangimu sebagai saudara seperbuahan.

Saudara jauhmu.

Pepaya

Konon sudah menjadi tabiat para penyelenggara negara di Kerajaan Nganjang Gribig untuk berbohong. Dari obrolan punggawa kraton, yang tanpa malu bercerita tentang kepandaian mereka menyulap angka, kok rasanya benar adanya kabar tentang masifnya hobi berbohong itu di antero kerajaan.

Di Nganjang Gribig, sudah biasa dua dikatakan tiga. Satu juta disebut seribu. Tampil merakyat di televisi, berselingkuh dengan korporat di belakang.

Ibarat air bagi tanaman, kebohongan itu menjadi unsur utama penggerak kerajaan. Dari pucuk sampai akar, bahkan rembesannya membasahi tanah di sekitarnya. Tentu bukan air jernih menyegarkan, melainkan cairan limbah yang perlahan membusukkan kerajaan.

Rakyat Nganjang Gribig sadar bahwa mereka dibohongi. Sebagian mereka berteriak, bukan karena menolak kebohongan melainkan karena mereka tak dapat kesempatan untuk meraih kemakmuran melalui kebohongan. Sebagian lagi membohongi diri mereka sendiri bahwa nasib kerajaan akan berubah melalui pengumpulan kotak suara yang diadakan secara berkala.

Entah bagaimana bisa bangsa yang mengaku penyembah Dewata, yang penyelenggara negaranya bersembahyang rajin setiap hari, yang pemangku pemerintahannya disumpah dengan nama-Nya, tanpa merasa berdosa mengkhianati ajaran rontal yang mereka sucikan.

Budaya bohong yang sudah sedemikian parahnya membuat punggawa kerajaan kehilangan indra untuk mengenal keadilan. Keadilan menjadi tengik di penciuman dan pahit di mulut mereka.

Maka di Nganjang Gribig, punggawa yang menempatkan perkara pada proporsinya menjadi orang buangan. Mereka yang membela hak rakyat dari para penerkam rakus menjadi musuh yang harus dibungkam. Apabila sedetik saja keadilan tegak, menangislah para punggawa karena takut tak bisa mengendara kereta kencana.

Sungguh menyedihkan hidup di Nganjang Gribig.

Beberapa bulan lalu, saya pernah menulis tentang SGit, aplikasi pengelola Git di Android yang punya fitur dasar lengkap. Nah, Sgit ini telah dihentikan pengembangannya. Namun, tidak perlu khawatir, karena SGit dilanjutkan oleh aplikasi serupa dengan nama MGit.

penampakan SGit

Tampilan MGit tidak jauh beda dengan Sgit, sekilas saya tidak menemukan perbedaan menyolok. Hanya penempatan menu saja yang sedikit berbeda dengan SGit.

Mgit dapat dipasang melalui Playstore atau F-Droid.