Kompor Tenaga Jin (Bagian 1)

Sore yang tenang di pelataran rumah Pak Sudrajat, kami berbincang mengenai ide baru yang dilontarkan si empunya rumah. Pak Sudrajat pagi tadi turun dari semedinya di lereng Gunung Bromo. Seminggu lalu, beliau pamit pada kami, murid-muridnya. Katanya, beliau mendapat panggilan untuk menerima petuah langit. Murid-murid beliau yang datang seminggu ini banyak yang kecele karena beliau tak ada. Begitu juga penagih kredit yang sudah sebulan ini mondar-mandir.

Ide yang dilontarkan Pak Sudrajat, hasil petuah langit yang didapatnya dari semedi, sebenarnya tidak benar-benar orisinal, Pak Joko Suprapto sudah mendahuluinya. Bedanya, Pak Sudrajat tidak menyebut idenya ini sebagai ide ilmiah. Ia secara terus terang menyebutkan ini adalah ide yang melampaui logika sains saat ini.

Pak Sudrajat membuka lembar gambar yang katanya beliau terima saat di lereng Bromo. Gambar itu adalah gambar kompor gas. Di pojok kiri bawah tertera merek kompor tersebut, berawalan huruf R. Pak Sudrajat bilang, wali quthub yang menemuinya tidak sempat mendesain gambar kompor sendiri, jadi hanya mengambil gambar di mesin pencari loh mahfud.

Pak Sudrajat memulai petuahnya. “Ketika anak Adam meninggal, tubuhnya akan kembali ke asal penciptaannya, dari tanah kembali ke tanah. Demikian juga saat anak bangsa jin meninggal. Tubuh astralnya akan menjadi api, dari api kembali ke api.”

“Kalau kita bisa menemukan jasad jin yang sudah meninggal, kita bisa memanfaatkannya sebagai sumber energi. Aku sudah mendapatkan petuah langit mengenai pemanfaatan jasad jin ini untuk kepentingan sehari-hari. Gambar kompor ini, walaupun mirip kompor gas biasa, namun sumber energinya bukan gas LPG ataupun LNG, ini menggunakan jasad jin.”

Pak Sudrajat membuka lembar gambar lainnya. Gambar sebuah tabung berwarna merah. Sekilas bentuknya seperti karakter Po dalam serial anak-anak Teletubbies, lengkap dengan lingkaran di atasnya.

“Tabung ini,” kata Pak Sudrajat, “bisa menampung sisa-sisa jasad jin yang sudah mati. Secara alami, jasad jin bisa sangat lama membusuknya, bahkan sampai ratusan tahun. Teknologi dalam tabung ini bisa mempercepat proses dekomposisi jasad jin menjadi api dalam waktu tidak sampai 1 menit. Api tadi bisa disalurkan ke kompor sehingga bisa dimanfaatkan untuk memasak.”

“Hebatnya lagi, satu jasad jin dewasa bisa menghasilkan energi setara dengan 12.000 kg gas elpiji yang biasa kita pakai. Untuk kebutuhan rumah tangga biasa, mungkin hanya perlu beberapa potongan kuku jin saja selama sebulan.”

Kami tertegun mendengar penjelasan Pak Sudrajat. Luar biasa ini, sebuah terobosan energi alternatif yang ramah lingkungan.

“Tahap pertama, aku akan membuat dulu purnarupa tabung dekomposisi ini. Semua langkah pembuatannya sudah diberikan oleh wali quthub yang menemuiku. Sayangnya saat ini, aku sedang tidak punya biaya cukup. Mungkin aku perlu menabung dulu sampai beberapa bulan ke depan.”

www.kompasiana.com
Kompor Tenaga Jin (Bagian 1) Halaman 2 – Kompasiana.com
Ihsan Ariswanto
4 – 5 minutes

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Duh, sayang sekali. Padahal aku sudah sangat antusias. Rasa-rasanya proyek ini tidak boleh ditunda lagi.

“Teman-teman sekalian,” aku memberanikan diri bicara, “aku kira proyek ini tidak boleh ditunda terlalu lama. Saat ini guru kita sedang memerlukan bantuan. Apakah kalian hanya akan diam saja?”

Perkataanku sepertinya membuat kawan-kawan lain tersadar. Rahman. pegawai perpajakan itu langsung membuka dompetnya. “Ini Pak Sudrajat, kebetulan saya baru terima tunjangan. Saya ikhlas memberikannya untuk Bapak,” katanya sambil menyerahkan amplop. Aku tidak tahu berapa isinya.

Begitulah, semua teman-temanku menyerahkan sejumlah uang. Berbeda-beda jumlahnya, sesuai kemampuan masing-masing. Aku sendiri menyerahkan selembar Soekarno-Hatta yang kudapat dari pinjam pada Rahman.

Hari telah malam ketika pertemuan kami ini berakhir. Pak Sudrajat berjanji dalam seminggu ini, purnarupa tabung dekomposisinya itu akan selesai dibuat. Beliau mengucapkan terima kasih pada kami yang telah rela menyokongnya. Setelah bersalaman, kami semua pamit.

Seminggu lagi, terobosan energi ini akan terwujud.