Titik Terendah, Lagi

Sangat sulit menjaga semangat. Sedikit lengah menjaga waktu tidur, hancur sudah semangat itu. Sedikit ada rasa kecewa, rasa bersalah, atau rasa takut, lenyaplah semangat itu. Ini tentu tidak terjadi pada setiap orang, hanya pada orang-orang yang punya “kelemahan” tertentu. Aku salah satu orang yang seperti itu.

Aku sedang mengalaminya, lagi. Ini berulang. Semangat lenyap, sesuatu yang menyenangkan datang, semangat timbul lagi, lalu sesuatu yang menyebalkan datang, dan semangat itu pergi. Terus seperti itu.

Kadang aku berpikir, jangan-jangan aku memang pemalas. Tetapi, kalau kuingat bagaimana produktifnya diriku saat semangat itu ada, juga mengingat capaian-capaian yang pernah kudapatkan, aku tidak begitu yakin bahwa aku pemalas.

Tetapi, orang-orang yang tidak mengalami apa yang kualami tampaknya tak bisa memahami apa yang terjadi padaku. Mereka menginginkan aku bisa seperti mereka.

Aku pun sebenarnya ingin seperti mereka, sungguh sangat ingin. Kalian mungkin tahu, aku bahkan pernah berobat cukup lama untuk menghilangkan “kelemahan”-ku ini. Aku menghentikan pengobatan itu karena ada dampak yang membuatku tersiksa. Jadi, aku hanya bertahan dengan caraku sendiri. Berjuang sendiri untuk mengembalikan semangat itu.

Perjuangan untuk kembali bersemangat itu tak mudah. Setiap semangat hilang, kinerjaku menurun, akibatnya aku mendapatkan hukuman. Hukuman membawa rasa malu dan rasa bersalah, sesuatu yang membuat semangat makin hilang. Perjuangan menuju semangat menjadi berlipat ganda beratnya.

Kadang-kadang, aku ingin mengakhiri saja semua itu. Pergi jauh, sejauh-jauhnya, ke Pulau Sumatera, ke Planet Mars, atau bahkan ke alam kubur, itu yang ingin kulakukan. Tetapi, aku tak berani melakukannya. Ada orang tua yang akan menangis sampai sakit, ada anak dan istri yang akan hancur hidupnya, jika aku melakukan itu.

Belakangan, aku belajar untuk menerima semua itu. Hukuman kujalani saja. Rasa malu kutahan. Olok-olok kutanggapi dengan gurauan. Di depan banyak orang, aku tampak seperti orang yang tak punya rasa bersalah. Di belakang, aku menangis sendirian.

Aku tak mungkin berharap orang mau menerima “kelemahan”-ku ini. Sistem di tempatku bekerja tidak menerima alasan-alasan seperti ini. Dan sayangnya, aku terlanjur membangun rumah tangga yang mau tak mau memaksaku harus menghasilkan uang cukup, sesuatu yang saat ini hanya bisa kudapatkan di tempatku bekerja sekarang.

Ya sudah. Waktunya menangis, ya menangis. Nanti juga datang waktunya tertawa. Hal terbaik yang bisa kulakukan saat ini hanyalah bertahan untuk tetap hidup, sepedih apapun tangisanku.

@ihsan@venera.social