Membaca Ulang Dragon Ball

Sepekan terakhir, aku membaca ulang komik Dragon Ball, mulai dari volume 1 ketika Bulma pertama kali bertemu Son Goku sampai dengan volume 42 ketika Majin Buu berhasil dikalahkan dan bumi berada pada masa damai.

Awalnya karena aku bermain game Dragon Ball Advance Advanture menggunakan emulator di ponsel. Jalan cerita game itu membuatku penasaran dengan urutan cerita awal Dragon Ball. Aku memutuskan untuk membaca ulang komiknya. Rencananya, aku hanya ingin membaca sampai dengan akhir saga Pikolo (pra-Dragon Ball Z kalau di anime), tapi ternyata keterusan sampai dengan akhir komik aslinya.

Bisa dibilang, ini pertama kali aku memahami cerita Dragon Ball secara utuh. Waktu kecil, aku berhenti menonton anime Dragon Ball yang tayang di Indosiar ketika aku sudah masuk SMP. Kalau tak salah waktu itu baru sampai saga Planet Namek. Beberapa tahun lalu aku pernah membaca keseluruhan 42 volume komik itu, namun waktu itu banyak halaman yang aku lewati untuk mempercepat pembacaan. Kali ini, hampir tidak ada halaman yang terlewat.

Ada beberapa hal yang baru kusadari setelah membaca secara keseluruhan komik ini. Pertama, aku baru sadar kalau Cell bukan alien. Tampaknya ingatanku tentang Cell tercampur dengan ingatanku tentang Frieza. Kedua, aku baru menyadari bahwa saga Majin Buu ternyata banyak komedinya seperti era-era awal Dragon Ball.

Ada satu hal yang membuatku senang saat selesai membaca keseluruhan komik ini. Waktu kecil, aku menganggap Son Goku adalah pahlawan. Dia mengalahkan orang-orang jahat dan menyelamatkan bumi. Ketika pertama kali aku membaca secara cepat keseluruhan komik ini beberapa tahun lalu, impresiku tentang Son Goku berubah. Aku tidak lagi bisa menganggapnya pahlawan, dia hanya senang bertarung saja dan tertantang mengalahkan yang lebih kuat. Tetapi sekarang, setelah aku membaca dengan detail, impresiku tentang kepahlawanan Son Goku kembali lagi. Betul bahwa motivasi terbesarnya adalah ingin mengalahkan yang lebih kuat dan bukan untuk meyelamatkan dunia, tapi di sisi lain, dia juga bertarung untuk melindungi keluarga dan teman-teman terdekatnya. Pada usiaku sekarang, kepahlawanan seseorang untuk melindungi orang-orang terdekat itu lebih nyambung dengan kehidupanku daripada kepahlawanan seseorang yang ingin menyelamatkan dunia.

Selain sisi menyenangkan itu, ada sisi gelap yang baru sekarang membuatku tak nyaman. Itu adalah perilaku Muten Roshi. Dulu, aku menganggap perilakunya yang mesum itu hanya lucu-lucuan saja. Tapi setelah membaca secara rinci, ternyata Muten Roshi melakukan beberapa tindakan yang kalau dilihat dengan standar saat ini adalah kejahatan seksual. Beberapa kali dia menyentuh bagian tubuh Bulma atau perempuan lain tanpa persetujuan dari si perempuan. Kalau hanya kebiasaan Muten Roshi yang suka melihat pornografi, itu masih bisa dianggap sebagai lucu-lucuan. Namun, menyentuh tanpa persetujuan bukan lagi hal yang lucu. Dalam kehidupan nyata, perbuatan itu bisa menyakitkan korbannya bahkan hingga trauma. Mungkin kita sedikit bisa memaklumi bahwa Dragon Ball adalah produk sebuah era dan kebudayaan yang berbeda dengan kondisi sekarang, namun itu tetap tidak bisa membenarkan masuknya materi-materi seperti itu sebagai sebuah lelucon. Sebagai orang yang sangat menyukai Dragon Ball, aku berharap materi-materi baru Dragon Ball lebih peka dengan hal-hal seperti itu.

#komik #manga #dragonball

@ihsan@venera.social